Liberasi

Masukan dari Juni 2008

MEREKA TIDAK SUKA SEKOLAH

Juni 27, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Sekolah Alternatif “Bale Rahayat”

WAJIB belajar sembilan tahun tidak bergaung di kampung Dano,

meski wilayah pedusunan itu tidak jauh dari Bandung, ibu kota

Provinsi Jawa Barat.

    KAMPUNG Dano terletak di lereng Gunung Guntur, sekitar delapan

kilometer ke arah selatan dari jalan raya provinsi yang menghubungkan

Kota Bandung dengan Kota Garut. Jarak yang relatif pendek itu begitu

susah dijangkau. Bekas-bekas aspal tidak terlihat lagi. Batu terjal

dan tanah lumpur pada saat hujan mengakibatkan warga Dano harus

mengeluarkan uang Rp 15.000 untuk mencapai jalan raya yang dilewati

kendaraan umum.

    Bersama sejumlah aktivis Jaringan Pendidikan Kritis di Garut,

kami menumpang truk bak terbuka menuju Dusun Dano. Nama Dano, menurut

Asep- seorang mahasiswa dari dusun itu-berasal dari kata danau. Dulu

di sana memang terdapat sebuah danau, namun kini telah mengering dan

dijadikan sawah. Meski begitu, air masih berlimpah di dusun yang dulu

dikenal sebagai penghasil tembakau itu.

    Jalan yang buruk itu menyebabkan Dano menjadi wilayah terisolir,

termasuk dalam pendidikannya. Ada empat SD negeri yang ada di sekitar

dusun itu, namun bangunannya dibiarkan mem-”busuk”. Jumlah gurunya

tidak memadai dan kadang-kadang tidak datang ke sekolah. Di salah

satu sekolah, ruangan yang rusak dijadikan pangkalan sayur. Kepala

sekolahnya sebulan tidak datang, gurunya dua minggu tidak mengajar,

sampai-sampai warga berdemonstrasi ke kantor dinas kecamatan.

    Tidak ada SMP yang berdekatan dengan desa tersebut. SMP terdekat

berjarak sekitar delapan kilometer, terletak di ibu kota kecamatan.

    SD yang diselenggarakan asal jalan mengakibatkan anak tidak betah

bersekolah. Murid yang dijejalkan di kelas satu di semua sekolah

menghilang satu per satu. Angka putus sekolah di SD sangat tinggi dan

hanya segelintir anak yang bisa bertahan sampai kelas enam. Tidak

sedikit anak kelas lima SD yang belum lancar membaca dan menulis.

Dari 120 anak usia enam sampai lima belas tahun, hanya sekitar 40

anak yang bisa baca tulis atau masih di bangku sekolah. Sisanya tidak

bisa baca tulis, apalagi mahir berhitung.

    “Anak-anak di sini rata-rata kelas tiga SD sudah tidak bersekolah

lagi,” kata Saefullah (37), salah satu pemuka masyarakat Dusun Dano.

    Dusun-dusun yang lain di Desa Dano tidak banyak berbeda. Menurut

Madyani (33), warga Dusun Dampit, di kelas satu biasanya jumlah anak

berjubel, tetapi di kelas enam tinggal belasan anak. Di Dusun Tambak

Baya, banyak anak putus sekolah, bahkan di kelas satu SD. Menjelang

akil balig, anak laki-laki biasanya pergi ke Bandung atau Jakarta.

Mereka ikut dibawa saudara atau bapaknya untuk bekerja sebagai

penjahit tas. Menurut Agus Suhendar, hanya sekitar 15 persen saja

anak yang melanjutkan sekolah ke SMP.

    Banyaknya usia wajib belajar yang putus sekolah itu, menurut

warga, bukannya karena persoalan ekonomi. Sebab, andaikata dipaksakan

ada saja uang untuk biaya sekolah. Namun, warga sering kesal karena

sekolah sering memaksa anak membayar iuran dengan mematok tanggal

tanpa kompromi. Besok diminta membayar pungutan, hari itu juga uang

harus tersedia. Guru kadang-kadang bersikap intimidatif dalam soal

uang sekolah.

    “Kalau tidak bisa bayar, tidak usah sekolah,” kata seorang warga

menirukan ucapan guru di sana.

    Pungutan sekolah dengan mematok tenggat waktu itu membuat

orangtua memilih tidak menyekolahkan anaknya. “Kami ini petani.

Pendapatan tidak menentu. Kadang-kadang tiga bulan baru dapat uang.

Kalau panen gagal, sering baru enam bulan kami punya uang,” kata

Saefullah.

    Bersekolah pun pada kenyataannya juga tidak memperbaiki kehidupan

mereka. Lulus sekolah tidak menjamin bisa mendapatkan pekerjaan dan

penghasilan yang lebih baik.

                                ***

 

    SIANG hari kami mengunjungi SD Negeri Dano IV. Sekolah itu

tersembunyi di tengah ladang penduduk. Dari luar sudah terlihat

bangunan sekolah itu tidak terawat. Saat masuk halaman sekolah,

segera terlihat satu lokal gedung sekolah hancur. Sebagian besar atap

dan dindingnya lenyap, hanya menyisakan sedikit dinding dan atap yang

sebentar lagi juga bakal ambruk. Sisa bangunan itu ditutup dengan

tambalan-tambalan dinding bambu usang. Bangku berdesak-desakan dalam

ruang yang gelap. Di situlah anak-anak kelas tiga belajar. Di atas

bekas bangunan sekolah itu sejumlah anak bermain bola.

    Sebagian besar anak itu diam saat ditanya; antara takut-takut dan

tidak lancar berbahasa Indonesia. Adi (12), yang saat ini duduk di

kelas enam, mengatakan bahwa ia tidak akan ke SMP setelah lulus

nanti. Ia akan membantu ibunya di sawah. Ketika ditanya, apakah ia

mau bersekolah bila sekolah diselenggarakan sore hari, ia

menggelengkan kepala.

    “Sore saya ikut mengaji,” kata Adi.

    Sekolah tidak mempunyai daya tarik bagi anak-anak itu. Penampilan

fisiknya pun tidak meyakinkan, bahkan membahayakan. Mutu

pendidikannya tidak perlu dipertanyakan. Di SD Negeri Dano hanya ada

dua guru pegawai negeri, satu guru sukarelawan, seorang kepala

sekolah dan penjaga sekolah. Tiga guru itu melayani 230 murid.

    Jumlah siswa kelas satu dan kelas dua masing-masing lebih dari 50

anak. Mereka berdesakan di bangunan yang tidak layak. Mereka rata-

rata tidak pernah bersekolah di taman kanak-kanak (TK). Dengan

kondisi seperti itu, wajarlah bila kelas tiga, bahkan kelas enam,

banyak anak tidak lancar membaca-menulis. Mestinya anak yang tidak

lancar baca-tulis tidak dinaikkan ke kelas dua. Akan tetapi, bisa

dibayangkan bila aturan itu ditegakkan, anak kelas satu bisa-bisa

harus berdiri untuk mengikuti pelajaran di dalam kelas!

    Amin Ahyar (40) mengajar di sekolah itu sejak 1984. Sejak tahun

itu sampai sekarang, sembilan kali kepala sekolah diganti. Rata-rata

hanya bertahan selama dua tahun. Amin seorang guru agama. Karena

tidak ada guru, ia harus mengajar mata pelajaran apa saja, rangkap

kelas pula.

    “Jumlah anak yang melanjutkan ke SMP bisa dihitung dengan jari.

Tahun lalu hanya dua anak yang meneruskan ke SMP. Baru tahun ini saja

jumlah anak yang bertahan di kelas enam mencapai 26 orang. Tahun-

tahun sebelumnya hanya tujuh sampai sepuluh orang,” kata Amin.

    Amin tidak kesulitan hadir mengajar di sekolah karena ia tinggal

di rumah dinas yang berdiri di kompleks sekolah. Pemerintah Kabupaten

Garut hanya memberikan tambahan kesejahteraan Rp 30.000 tiap guru dan

dibayarkan empat bulan sekali. Iuran dari orangtua murid rata-rata Rp

3.000 per anak tiap bulan, itu pun lebih sering macet. Sementara

ongkos naik ojek dari jalan raya ke lokasi sekolah pulang pergi Rp

30.000 per hari. Karena itu, Amin bisa maklum bila guru-guru yang

bertugas di Desa Dano tidak rutin hadir di sekolah.

                                  ***   

 

    SITUASI pendidikan di Desa Dano sekarang justru lebih buruk dari

generasi sebelumnya. Asep Feisal (37) sempat bersekolah sampai SLTA,

meski tidak lulus. Tiap pagi ia berjalan kaki sepanjang delapan

kilometer. Tiap hari harus segera bergegas meninggalkan rumah seusai

shalat subuh. Agus Suhendar (40) sempat bersekolah sampai SMP.

Sementara Saefullah hanya mengenyam satu setengah tahun pendidikan

SD, namun ia lancar membaca, menulis, dan berhitung.

    “Masyarakat di sini telah dibohongi. Katanya mau memberikan ilmu,

tetapi ternyata anak-anak tidak bisa membaca. Metode pendidikan di

sekolah membebani murid macam-macam, tidak menyenangkan, bahkan malah

membodohkan,” kata Saefullah.

    Dua tahun lalu, Saefullah bersama sejumlah tokoh masyarakat di

dusun itu berinisiatif menyelenggarakan pendidikan di luar sekolah

untuk menampung anak-anak yang putus sekolah. Sekolah alternatif itu

mulai berjalan dua bulan lalu berkat dukungan sejumlah mahasiswa

Garut yang tergabung dalam Jaringan Pendidikan Kritis. Mereka kini

merintis sekolah alternatif “Bale Rahayat”. Sehari-hari puluhan anak

putus sekolah belajar bersama di teras masjid dibimbing oleh

Saefullah dan kawan-kawannya. Seminggu sekali sejumlah mahasiswa

datang, dengan ongkos sendiri, untuk membantu mengajar.

    “Kami tidak mau anak-anak desa ini mengalami nasib seperti kami.

Tanpa ilmu, kita berjalan meraba-raba dalam gelap,” kata Agus.

    Asep yang sehari-hari bekerja dalam usaha konfeksi kulit di

Jatinegara, Jakarta Timur, berinisiatif mengumpulkan iuran dari rekan-

rekannya untuk membantu penyelenggaraan sekolah alternatif di

pedusunan yang ada di wilayah Desa Dano. “Saya menyesal tidak bisa

menamatkan sekolah. Jangan sampai anak-anak kita kandas belajar saat

masih di bawah umur,” kata Asep dalam pertemuan dengan warga seusai

peringatan Maulid Nabi.

    Kokon-mahasiswa Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan

(STKIP) Garut-yang diserahi warga untuk memimpin “Bale Rahayat”

tersebut mengemukakan, pendidikan yang ditawarkan di sekolah

alternatif berbeda dengan sekolah pemerintah. Mereka menyelenggarakan

kegiatan belajar tanpa harus ada gedung sekolah. Guru dan murid

belajar bersama-sama. Belajar dibuat menyenangkan dan diisi banyak

permainan.

    “Dengan belajar sambil bermain, insya Allah anak-anak akan jadi

cerdas,” kata Kokon.

    Susi Fitri dari Jaringan Pendidikan Kritis mengemukakan bahwa

salah satu pesan dalam peringatan Maulid Nabi adalah agar umat

menjadi pintar agar tidak dibodohi dan mengerti apa yang dialami

dalam kehidupan. Sekolah alternatif merupakan upaya untuk

mencerdaskan rakyat ketika sekolah formal tidak mampu menjangkau

seluruh masyarakat.

    Karena itu, sudah seharusnya negara membantu penyelenggaraan

sekolah-sekolah alternatif. Bila negara tidak mau membantu, kata

Susi, itu merupakan kejahatan yang dilakukan negara pada rakyat. (P

Bambang Wisudo/Rien Kuntari)

 

Tulisan ini pernah dimuat di Harian Kompas

Sabtu, 14-05-2005. Halaman: 10

dengan judul ”Mereka Kini Tidak Suka (Lagi) Sekolah”

 

               

Kategori: 1

Pelatihan Penulisan dan Dokumentasi Sekolah Alternatif

Juni 27, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Perkumpulan Sahabat Akar, Jumat 20 Juni sampai dengan Minggu 22 Juni, mengadakan pelatihan dokumentasi dan penulisan pendidikan alternatif di Sanggar Lare Mentes, Klaten. Pelatihan ini diikuti sembilan aktivis pendidikan alternatif. Mereka dilatih untuk membuat tulisan-tulisan human interest maupun naratif untuk menyebarluaskan pengalaman dan gagasan pendidikan alternatif di Indoensia. Para peserta pelatihan terdiri dari mahasiswa, ibu-ibu, maupun mereka yang putus sekolah di tengah jalan.

  Dalam waktu dekat mereka akan terjun ke sekolah-sekolah alternatif di Jawa dan Sumatera untuk melakukan pengumpulan data. Mereka sekaligus berbagi pengalaman dengan para aktivis dan siswa sekolah alternatif yang mereka kunjungi. 

Kategori: News Updates

Sekolah Anak-anak Petani (3)

Juni 26, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

“BALE RAHAYAT”

                            DI KAMPUNG DANO

                         Oleh P Bambang Wisudo

 

    Rumah panggung berdinding bambu yang disulap menjadi ruangan

setengah terbuka itu disesaki anak-anak. Ruangan itu hanya berukuran

sekitar 35 meter persegi, tetapi harus menampung tidak kurang dari

110 anak. Mereka dibagi dalam tiga kelompok yang dipisahkan dengan

dinding bambu setinggi pinggang orang dewasa.

    Di situlah anak-anak Kampung Dano di kaki Gunung Guntur,

Kabupaten Garut, belajar. Sudah seminggu anak-anak petani di Kampung

Dano yang belajar di Sekolah Alternatif “Bale Rahayat” belajar di

bangunan yang masih bersifat darurat itu. Sebelumnya, mereka berdesak-

desakan belajar di emperan masjid. Ketika hujan, air tempias, yang

membuat mereka basah kedinginan.

    “Dulu saya sempat ngeri bila hujan deras disertai angin. Anak-

anak basah kuyup. Sekarang ada tempat belajar buat anak-anak, walau

seadanya. Saya akan berusaha sekuat tenaga ikut mengajar di sini,”

kata Dede, warga Dano yang ikut mengajar di situ.

    Dalam fasilitas yang sangat terbatas, anak-anak tersebut antusias

belajar. Tidak ada anak yang putus di tengah jalan. Tingkat kehadiran

di sekolah alternatif ini mendekati 100 persen. “Gedung SD Inpres

memang lebih bagus, tetapi saya lebih senang belajar di sini. Lebih

bebas dan tidak jenuh,” tutur Saripah (14).

    Ruangan yang sempit itu dipergunakan untuk tiga kelompok.

Kelompok pertama, terdiri atas anak-anak yang belum mahir baca-tulis

dan berhitung. Kelompok kedua, anak-anak yang masih bersekolah di

sekolah formal kelas V dan VI. Kelompok ketiga, anak-anak putus

sekolah yang telah mahir baca-tulis dan berhitung. Tentu saja ruangan

sangat berisik. Suara guru yang sedang mengajar bahasa Inggris

campur-baur dengan suara anak yang sedang membaca dan bernyanyi di

dua kelompok lain.

    Sekitar 20 meter dari rumah tersebut, 73 anak usia prasekolah

belajar berdesak-desakan di rumah Ustad Saefulloh (39). Ruang tamu

seluas 20 meter persegi tidak mampu menampung semua anak. Sejumlah

anak terpaksa duduk di luar. Di dalam ruangan, anak-anak duduk di

lantai tanpa melepaskan tas ransel mereka.

    Ruangan terlalu sempit untuk menaruh tas, apalagi untuk

menggambar dan menulis. Kesempatan menggambar dan menulis hanyalah di

papan tulis. Buku bacaan anak bertumpuk bersama buku-buku lain di

sebuah sofa tua. Tidak jarang istri Saefulloh yang tidak tamat SD

ikut turun tangan mengajar.

    Sejumlah mahasiswa dan alumni Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu

Pendidikan (STKIP) Garut dan Universitas Garut mengajar di sekolah

tersebut. Mereka harus merogoh kocek sendiri untuk datang ke Kampung

Dano.

    Aspal yang mengelupas dan jalan terjal berbatu-batu membuat

ongkos ojek ke lokasi menjadi mahal. Setelah harga BBM naik, ongkos

ojek menuju lokasi bisa mencapai Rp 15.000 sekali jalan. Ongkos

transportasi yang mahal itu sering menghambat mereka datang ke

sekolah.

    Masalah transportasi itu relatif terpecahkan setelah dana untuk

membeli motor bekas terkumpul. Sepeda motor tua keluaran 1993 dibeli

dengan hargaRp 3,4 juta. Uang untuk membeli bensin ditanggung bersama.

    “Sepeda motor ini kadang-kadang harus naik-turun ke Dano dua-

tiga kali sehari,” kata Kokon Koswara, Koordinator Sekolah

Alternatif “Bale Rahayat”.

 

Sempat diragukan

    Dalam kondisi serba terbatas, Sekolah Alternatif “Bale Rahayat”

telah berjalan selama satu tahun. Aparat desa semula ragu kegiatan

pendidikan itu bisa bertahan. Ternyata, berkat komitmen sejumlah

tokoh masyarakat dan mahasiswa, “Bale Rahayat” bisa menjadi

alternatif bagi anak-anak Kampung Dano. Bila semula sebagian besar

anak putus sekolah di tingkat SD dan tidak lancar baca, tulis, dan

berhitung, kini anak-anak itu antusias belajar. Dulu anak laki-laki

yang memasuki masa remaja sudah harus meninggalkan kampungnya,

bekerja sebagai buruh anak di kota, kini mereka bisa tetap bermain

dan belajar.

    “Saya bangga ada kemajuan pada anak-anak,” kata Dahlan, salah

satu orangtua murid.

    Kemajuan itu memang ada. Menurut Saefulloh, sebelum ada kegiatan

belajar di “Bale Rahayat” masih ada anak kelas V SD yang belum bisa

membaca kata “kompor”. Berbekal dari pelatihan yang pernah

diikutinya, Saefulloh mengajarkan membaca dan menulis kepada anak-

anak dari benda-benda yang ada di sekitar anak. Untuk mengatasi

jumlah anak yang berjejal-jejal, ia juga menggambar benda-benda di

papan tulis sambil mengajarkan anak-anak menulis.

    “Bila tidak ada kawan-kawan mahasiswa dari Garut, saya harus

mengajar sampai kecapaian.Anak-anak mengharapkan pelajaran, sementara

saya sudah kelelahan,” kata Saefulloh.

    Asep, lulusan Universitas Garut yang sehari-hari bekerja di

industri rumah tangga konveksi kulit, ikut meluangkan waktunya untuk

mengajar. Ia juga menyatakan kegembiraannya, sebagian besar anak kini

telah mampu membaca dan menulis. Ia sering mengajak anak-anak ke luar

ruangan kelas, diajak berjalan ke kebun sambil belajar. Anak-anak itu

bisa menjelaskan runtut bagaimana pohon labu ditanam sampai berbuah.

Belajar dari lingkungan sekitar terus dikembangkan di “Bale Rahayat.”

    “Bale Rahayat” juga menjadi tempat penyemaian calon-calon guru

yang mampu berpikir transformatif. Sejumlah mahasiswa semester awal

STKIP Garut mendapatkan kesempatanmempraktikkan kemampuan

mengajarnya. Terkadang mereka harus bermalam di rumah penduduk. Dani

(20), mahasiswa semester II, telah cukup terampil menguasai kelas.

Dengan berbagai macam permainan ia bisa membuat anak-anak yang

berdesak-desakan tetap fokus dengan topik yang dibahas.

    Dengan berbekal satu buku kumpulan soal, ia menggunakan soal-soal

pilihan ganda secara kreatif. Sekitar 30 anak dalam kelompoknya

dibagi dalam empat grup. Soal-soal dipakainya untuk membuat kuis.

Sebelum sampai pada pilihan-pilihan jawaban yang ditawarkan di buku,

anak dibebaskan menjawab sesuai pendapat mereka. Tidak berhenti di

situ, Dani juga meminta anak-anak memberikan alasan terhadap jawaban

yang diberikan.

    “Kelak saya ingin membuka madrasah di kampung saya,” kata Dani.

    Usai kegiatan belajar, sejumlah 18 siswa Bale Rahayat yang duduk

di kelas VI SD negeri masih berkumpul di Bale Rahayat. Mereka hanya

berbisik-bisik ketika ditanya siapa yang akan melanjutkan pendidikan

ke SMP. Tidak ada yang menjawab. Begitu pula ketika ditanya

sebaliknya, siapa yang tidak akan melanjutkan pendidikan ke SMP.

Tidak ada yang mengacungkan jari. Ketika ditanya siapa yang akan

melanjutkan ke SMP bila “Bale Rahayat” menyelenggarakan pendidikan

SMP, mereka serentak mengacungkan jari dan menjawab.

    Menurut penuturan anak- anak, mereka tidak memiliki biaya untuk

bersekolah ke SMP di luar desa. Jarak dari desa kesekolah terdekat

sekitar lima kilometer. Hanya bisa ditempuh dengan ojek. Ongkos ojek

sehari Rp 5.000. Itu pun bila mengangkut dua anak sekaligus.

    Saat ini hanya dua anak Kampung Dano yang melanjutkan pendidikan

ke SMP. Salah satunya Hidayat (13), yang kadang terpaksa membolos

karena tidak punya ongkos. Ia ikut-ikutan tidak masuk bila kawannya

sekampung tidak ke sekolah.

    “Ongkosnya lebih mahal,” tutur Hidayat.

    Ia kemungkinan besar akan bergabung dengan teman-temannya,

kembali dari kelas I, bila “Bale Rahayat” membuka SMP. Tanpa ada SMP

alternatif di Kampung Dano, anak-anak usia wajib belajar di situ

hampir dipastikan putus sekolah. Masihkah ada orang-orang yang peduli

pada mereka?

Artikel ini pernah dimuat di Harian Kompas 

Kamis, 20-04-2006, halaman: 14

Kategori: Tak Berkategori
Ditandai:

Sekolah Anak-anak Petani (2)

Juni 26, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

SEBUAH KEAJAIBAN DARI DESA SARIMUKTI

                        Oleh P Bambang Wisudo

 

 

    Keajaiban dalam pendidikan tidak selalu datang dari sekolah-

sekolah mahal yang bergelimangan fasilitas. Di Sarimukti, desa di

kaki bukit yang berada pada ketinggian 1.500 meter dari permukaan

laut-persisnya di kaki Gunung Papandayan, sekitar 18 kilometer dari

Garut, Jawa Barat- keajaiban itu pun terjadi.

   

    Madrasah Tsanawiyah Sururon dengan bangunan sekolah yang

bersahaja, fasilitas yang serba terbatas, dan sebagian besar gurunya

dianggap tidak layak mengajar, justru mampu melakukan perubahan.

Dalam segala kesederhanaannya, Madrasah Sururon tumbuh menjadi

sekolah yang dicintai oleh murid-murinya.

    “Saya ingin selalu berdekatan dan tak dipisahkan dari Sururon,”

kata Siti Halimah (16), murid kelas III Madrasah Sururon.

    Halimah bersama 31 kawan sekelasnya sebulan lagi akan menempuh

ujian nasional. Itu berarti beberapa bulan lagi ia harus berpisah

dengan sekolahnya. Ia ingin melanjutkan sekolah. Telah sepuluh kali

ia bertanya kepada bapaknya, tetapi belum juga ada jawaban.

    Ia berharap dapat melanjutkan di Sururon. Bila Sururon tahun

depan tidak membuka jenjang pendidikan yang lebih tinggi, ia akan

putus sekolah. Mungkin ia akan ke kota mencari nafkah, atau menjadi

buruh tani di kebun-kebun sayur yang dikuasai petani pemilik tanah,

atau sebentar lagi dikawinkan.

    Ia berharap kelak menjadi sarjana hukum. Ia ingin mengembangkan

dan membantupara petani di desanya. Ia juga ingin mengembangkan

sekolahnya. Ia mau membuktikan bahwa Sururon bukan sekolah main-main.

Petani, kata Halimah, tidak boleh dipinggirkan. Anak- anak petani,

sekalipun miskin, harus maju dan bersekolah.

    “Kalau saya jadi sarjana hukum, saya mau membela petani sekuat

mungkin,” kata Halimah. Suaranya berapi-api. Ayahnya pernah dikejar-

kejar aparat keamanan ketika operasi Wanalaga Lodaya I digelar.

Ayahnya dituduh menggerakkan petani menjarah tanah yang diklaim

sebagai areal hutan lindung.

    Apa yang dinyatakan oleh Halimah mewakili kerinduan kawan-kawan

sekelasnya. Mereka ingin melanjutkan sekolah. Lulus sekolah, mereka

ingin kembali menjadi petani dan mengembangkan sekolah. Iip Nurzaman

(17) bahkan bermimpi mendirikan perguruan tinggi di desanya. Kata

Iip, walau tinggal di desa anak-anak petani tak boleh kalah dengan

mereka yang di kota. Iip bercita-cita menjadi guru, sekaligus menjadi

petani.

 

Tidak meninggalkan akar

    Di depan halaman sekolah terdapat lahan sekitar 2.000 meter

persegi yang dipergunakan siswa kelas I dan II untuk menanam sayur.

Saat ini mereka menanam bawang merah. Panenan yang lalu, lahan itu

menghasilkan dua kuintal bawang merah dengan harga Rp 1.300 per

kilogram. Hasilnya tidak seberapa, tetapi tugas sekolah di kebun akan

selalu mengingatkan mereka kepada akarnya sebagai anak petani.

    Murid-murid Madrasah Sururon adalah anak-anak yang percaya diri.

Sekalipun sekolahnya di desa miskin yang terpencil,mereka menguasai

bagaimana berkomunikasi. Di sekolah mereka bebas mengkritik guru. Di

Madrasah Sururon, guru adalah teman belajar. Mereka sadar bahwa

orangtua mereka adalah para petani miskin, tetapi anak-anak itu tidak

rendah diri dan mau maju. Madrasah Sururon berhasil menjadikan

dirinya sebagai sumber inspirasi bagi murid-muridnya.

    Madrasah Sururon mengadopsi kurikulum sekolah formal yang berlaku

secara nasional. Perbedaan yang menonjol dibandingkan sekolah formal

adalah interaksi di dalam kelas. Guru-guru yang tidak memiliki

kualifikasi formal untuk mengajar justru menjadi berkah karena jarak

antara guru dan murid menjadi tipis. Tidak hanya murid yang harus

belajar, tetapi juga guru. Guru dan murid sama-sama menjadi teman

belajar. Guru tidak menjadi satu-satunya sumber belajar.

    “Kami menyelenggarakan proses belajar yang sesuai dengan

konteks. Ilustrasi jangan sampai tak relevan dengan yang dihadapi

anak-anak. Teks tidak ada artinya tanpa konteks,” kata Boy Fedro,

salah satu perintis dan guru Madrasah Sururon.

    Salah satu agenda besar di balik pendirian Madrasah Sururon

adalah mencetak kader-kaderperubahan sosial di kalangan petani.

Namun, tidak ada pelajaran khusus tentang ini. Ada topik- topik

bahasan tentang keorganisasian menyangkut keberadaan dan perjuangan

Serikat Petani Pasundan. Siswa juga diajak ikut serta dalam pertemuan-

pertemuan organisasi, dalam dialog antara petani dan pemerintah atau

anggota DPRD, bahkan diajak bergabung dalam aksi demonstrasi.

    Menurut Boy, keikutsertaan siswa dalam aksi demonstrasi tidak

bisa diartikan sebagai politisasi kegiatan belajar-mengajar. Anak

justru dihadapkan pada pemahaman bahwa demonstrasi merupakan salah

satu cara yang ditempuh orangtua mereka dalam memperjuangkan hak-hak

petani.

 

Kesetaraan dan kelanjutan

    Meski tidak ada topik-topik khusus tentang toleransi dan

pluralisme, Madrasah Sururon mencoba menanamkan prinsip-prinsip

toleransi, kesetaraan, dan penghormatan terhadap orang yang berbeda

warna kulit dan agama. Dalam tradisi pesantren, kata Boy, kultur

patriarki cenderung sangat kuat.

    Karena itu, dalam sekolah, kultur tersebut tidak digugat secara

langsung, tapi dipraktikkan. Dalam pembagian kelompok,misalnya,

perempuan digabung dengan laki-laki. Ketika ada acara-acara di

sekolah, perempuan tidak hanya diberikan tanggung jawab urusan

konsumsi, tetapi juga mengurus hal-hal yang berhubungan dengan

publik. Sebaliknya laki-laki juga diberi tugas mengurus konsumsi.

    Boy bersama tiga rekan seperjuangannya, Ridwan Saefudin (34),

Aang Muhsan Fauzi (34), dan Muhammad Nuh (27) harus berpikir keras

bagaimana memenuhi desakan murid-murid kelas III agar Sururon membuka

jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Tanpa itu, 32 muridnya yang

ingin melanjutkan sekolah, akan putus di tengah jalan.

    Gambaran pendidikan lanjutan itu sudah ada di benak pengelola

Madrasah Sururon. Mereka akan membuat sekolah yang dikaitkan dengan

usaha produksi. Ada peluang untuk mengembangkan produksi pertanian,

peternakan, atau perbengkelan untuk melayani kebutuhan lokal.

    Akan tetapi, di balik semua keberhasilan dan harapan itu,

kelangsungan hidup Madrasah Sururon masih menjadi tanda tanya. Belum

satu pun guru memperoleh honorarium, apalagi gaji tetap. Biaya

operasional sekolah selama ini hanya mengandalkan bantuan dari

donatur dan organisasi. Kelangsungan itu baru terjamin tersedia lahan

sekurangnya dua hektar untuk dikelola sekolah. Keajaiban itulah yang

sampai kini belum mereka dapatkan.

Artikel ini pernah dimuat di Harian Kompas

Rabu, 19-04-2006 di halaman 13.

Kategori: Tak Berkategori
Ditandai:

Sekolah Anak-anak Petani (1)

Juni 26, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

MADRASAH SURURON, HARAPAN DESA SARIMUKTI

                        

Oleh P Bambang Wisudo

 

    Angin sepoi-sepoi. Bunyi gemericik air, dan sayup- sayup suara

kambing mengembik, membuat suasana damai di Desa Sarimukti. Desa itu

terletak di ketinggian 1.500 meter dari permukaan laut, persis di

kaki Gunung Papandayan, sekitar 18 kilometer dari Kota Garut, Jawa

Barat.

    Di situlah berdiri Madrasah Tsanawiyah Sururon, sekolah

alternatif yang menjadi tumpuan harapan dan sumber inspirasi anak-

anak petani miskin di Garut.

    Dua tahun lalu, Madrasah Sururon mendirikan bangunan sekolah yang

baru. Bangunan sekolah itu merupakan sebuah rumah panggung memanjang,

yang berdiri di atas sebuah kolam. Dindingnya kayu, di dalamnya

berlapis anyaman bambu. Anak-anak belajar tanpa bangku. Mereka duduk

di lantai kayu. Mejanya segi enam yang dibelah dua, ringan, dan mudah

dipindahkan. Di depan halaman sekolah, tanaman sayur terhampar di

bukit-bukit sepanjang mata memandang.

    Bangunan sekolah yang bersahabat, tidak berbeda jauh dengan rumah

mereka, justru membuat anak-anak kerasan di sekolah. Ketika desa itu

dingin berkabut, di dalam ruang kelas terasa hangat. Ketika gempa

mengguncang Garut, April 2005, bangunan itu tetap kokoh berdiri,

sementara bangunan pesantren yang berdinding batu retak cukup parah.

Madrasah Sururon merupakan sekolah yang diimpikan anak-anak petani di

Sarimukti yang selama ini putus sekolah setamat SD.

    “Saya lebih senang bangunan sekolah seperti ini. Di kampung saya

seperti ini. Saya tidak merasa berada di sekolah karena suasananya

seperti di rumah,” kata Herawati (17), siswa kelas III dari Desa

Bungbulang, Garut selatan.

    Empat tahun lalu, hanya satu-dua anak Sarimukti yang bisa

melanjutkan sekolah ke tingkat SLTP. Ongkos naik ojek sekali jalan

sama dengan upah buruh tani sehari kerja.

    Setamat SD, sebagian masih gagap membaca dan menulis, sebagian

anak-anak itu bergabung dengan orangtua mereka menjadi buruh petani

sayur. Pagi-pagi mereka di bawa dengan truk, berdesak-desakan dengan

orang- orang dewasa, dikirim ke bukit- bukit untuk menggarap tanah.

Sebagian lagi tinggal mengasuh adik-adik mereka di rumah. Begitulah

mereka menghabiskan masa remajanya sebelum akhirnya kawin dan menjadi

buruh tani seperti orangtua mereka.

 

Memilih bentuk formal

    Ide mendirikan madrasah muncul dari pembicaraan antara para

petani di Desa Sarimukti, pengasuh Pondok Pesantren Sururon, dan

aktivis Serikat Petani Pasundan. Menurut Boy Fidro, salah satu

perintis Madrasah Sururon, mereka tidak memilih jalur informal yang

dianggap terlalu radikal. Akan tetapi, mereka juga tidak ingin

membangun sebuah sekolah yang mengasingkan dari dunia di sekitarnya.

    “Sekolah ini dibangun di atas komunitas dan lulusannya akan

kembali bekerja untuk memenuhi kebutuhan komunitas. Kami tidak ingin

menjadi sekolah yang hanya mengajarkan ilmu untuk pergi,” kata Boy.

    Juli 2003, Madrasah Sururon memulai kegiatan belajar-mengajar

dengan 64 murid. Sebagian berasal dari desa-desa di Jawa Barat bagian

selatan yang menjadi wilayah dampingan Serikat Petani Pasundan. Anak-

anak yang datang dari luar Sarimukti, tinggal di pesantren atau di

pondok guru. Baru tiga bulan sekolah itu berlangsung,

Perhutani menggelar operasi Wanalaga Lodaya I di areal yang direklaim

petani. Sejumlah petani kabur atau kehilangan mata pencarian. Operasi

itu membuat kehidupan petani Sarimukti makin terjepit. Dampaknya

terasa sampai ke sekolah. Jumlah murid Madrasah Sururon anjlok

menjadi setengahnya.

    Saat ini murid Madrasah Sururon berjumlah 138 anak, kelas I

dibagi dua kelas. Sekitar 80 persen lulusan SD di Sarimukti

mengandalkan Madrasah Sururon untuk kelanjutan pendidikan mereka.

    Sebagian besar guru Madrasah Sururon tidak memiliki kompetensi

formal untuk mengajar siswa SLTP. Dari delapan guru tetap dan delapan

guru honorer, hanya dua orang yang berijazah sarjana (S1). Dua orang

yang hanya mengantongi ijazah SMA, sebagian besar sisanya lulusan SMP.

    Deden Suparman (26), guru bahasa Inggris, secara formal hanya

lulusan SMP. Keterampilan bahasa Inggris-nya diperoleh dari kursus

selama enam bulan. Menjelang anak-anak kelas III Madrasah Sururon

mengikuti ujian nasional, Deden akan mengikuti ujian kesetaraan Paket

C. Setelah itu ia akan mengikuti melanjutkan pendidikannya di

Universitas Terbuka.

    “Saya tidak mau menempatkan diri dalam posisi sebagai guru. Saya

mau belajar sambil mengajar,” kata Deden.

    Ridwan Saefudin (34), lulusan SMA, mengajar matematika. Ia

belajar mengajar matematika dengan mengamati bagaimana Boy Fidro

mengajar matematika. Boy, lulusan ITB, merupakan fasilitator dalam

pertemuan-pertemuan organisasi nonpemerintah. “Pada tahun pertama,

ketika Boy mengajar, saya duduk di belakang. Kadang-kadang saya

diminta murid-murid menjelaskan di depan kelas. Tahun kedua saya

diberi kepercayaan penuh untuk mengajar,” kata Ridwan.

    Keberhasilan mereka mengajar secara formal akan diukur dari

sejauh mana keberhasilan anak-anak kelas III yang tahun ini akan

mengikuti ujian nasional. Tetapi, kata Boy, tidak akan ada akal-

akalan untuk menyiasati nilai ujian nasional, sekalipun ujian akan

diadakan di sekolah sendiri.

    “Selama ini tidak ada siswa yang menyontek. Kami selalu

menekankan pentingnya menghargai nilai yang dicapai. Kejujuran itu

penting, kalau dapat nilai tiga, itu ukuran bahwa kemampuan kita baru

di situ,” tutur Boy.

 

Tanpa biaya

    Tidak ada biaya yang dipungut dari orangtua murid. Biaya

operasional sekolah dihimpun dari para donatur dan bantuan dari

organisasi. Ketika sekolah memperbaiki atau mendirikan bangunan,

orangtua murid menyumbang bahan bangunan atau tenaga. Interaksi guru

dengan orangtua murid begitu dekat. Guru sering diundang makan atau

dikirimi bahan makanan dari orangtua murid. Tidak ada gaji bulanan

untuk guru-guru di sana. Mereka hidup bersama masyarakat.

    Kedekatan sekolah dengan masyarakat juga tercermin dari bagaimana

sekolah membangun komunikasi dengan warga. Pengumuman dan pembicaraan

tentang sekolah sering dilakukan di dalam masjid, sehabis sembahyang

Jumat. Sebulan sekali ada pengajian orangtua murid. Dalam forum itu

perkembangan sekolah dibicarakan.

    “Saya bersyukur ada sekolah ini. Jangan sampai anak saya bodoh

seperti bapaknya,” kata Dadan (64). Anak pertamanya, Sohib (15),

kini duduk di kelas III.

    Dadan menuturkan, tidak masalah bila anaknya kembali bertani

setelah bersekolah. Dengan menguasai ilmu, ia berharap hasil yang

dicapai anaknya lebih baik dari yang ia peroleh selama

ini. “Kalaupun nanti harus nyangkul tidak apa-apa asalkan berilmu.

Kalau ke kota, juga ilmunya yang dipakai,” tuturnya.

    Di tengah beratnya kehidupan yang dihadapi, Dadan masih bisa

bernapas lega. Anaknya paling bungsu, Saefullah (11), dipastikan bisa

melanjutkan ke SLTP. Jauh-jauh hari Saefullah telah menyatakan

keinginannya untuk melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Sururon. Ia

tidak harus menghabiskan masa remajanya di kebun-kebun sayur milik

petani bermodal besar. Ia tetap bisa bermain sambil belajar.

  

“Saya bersyukur ada sekolah ini. Jangan sampai anak saya bodoh seperti

bapaknya. Kalaupun nanti harus nyangkul tidak apa-apa asalkan berilmu, ” kata Dadan.

 

Artikel ini pernah dimuat di Harian Kompas

18 April 2004

Halaman 14

Kategori: Tak Berkategori
Ditandai:

Hello world!

Juni 26, 2008 · 1 Komentar

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Kategori: News Updates