SEBUAH KEAJAIBAN DARI DESA SARIMUKTI
Oleh P Bambang Wisudo
Keajaiban dalam pendidikan tidak selalu datang dari sekolah-
sekolah mahal yang bergelimangan fasilitas. Di Sarimukti, desa di
kaki bukit yang berada pada ketinggian 1.500 meter dari permukaan
laut-persisnya di kaki Gunung Papandayan, sekitar 18 kilometer dari
Garut, Jawa Barat- keajaiban itu pun terjadi.
Madrasah Tsanawiyah Sururon dengan bangunan sekolah yang
bersahaja, fasilitas yang serba terbatas, dan sebagian besar gurunya
dianggap tidak layak mengajar, justru mampu melakukan perubahan.
Dalam segala kesederhanaannya, Madrasah Sururon tumbuh menjadi
sekolah yang dicintai oleh murid-murinya.
“Saya ingin selalu berdekatan dan tak dipisahkan dari Sururon,”
kata Siti Halimah (16), murid kelas III Madrasah Sururon.
Halimah bersama 31 kawan sekelasnya sebulan lagi akan menempuh
ujian nasional. Itu berarti beberapa bulan lagi ia harus berpisah
dengan sekolahnya. Ia ingin melanjutkan sekolah. Telah sepuluh kali
ia bertanya kepada bapaknya, tetapi belum juga ada jawaban.
Ia berharap dapat melanjutkan di Sururon. Bila Sururon tahun
depan tidak membuka jenjang pendidikan yang lebih tinggi, ia akan
putus sekolah. Mungkin ia akan ke kota mencari nafkah, atau menjadi
buruh tani di kebun-kebun sayur yang dikuasai petani pemilik tanah,
atau sebentar lagi dikawinkan.
Ia berharap kelak menjadi sarjana hukum. Ia ingin mengembangkan
dan membantupara petani di desanya. Ia juga ingin mengembangkan
sekolahnya. Ia mau membuktikan bahwa Sururon bukan sekolah main-main.
Petani, kata Halimah, tidak boleh dipinggirkan. Anak- anak petani,
sekalipun miskin, harus maju dan bersekolah.
“Kalau saya jadi sarjana hukum, saya mau membela petani sekuat
mungkin,” kata Halimah. Suaranya berapi-api. Ayahnya pernah dikejar-
kejar aparat keamanan ketika operasi Wanalaga Lodaya I digelar.
Ayahnya dituduh menggerakkan petani menjarah tanah yang diklaim
sebagai areal hutan lindung.
Apa yang dinyatakan oleh Halimah mewakili kerinduan kawan-kawan
sekelasnya. Mereka ingin melanjutkan sekolah. Lulus sekolah, mereka
ingin kembali menjadi petani dan mengembangkan sekolah. Iip Nurzaman
(17) bahkan bermimpi mendirikan perguruan tinggi di desanya. Kata
Iip, walau tinggal di desa anak-anak petani tak boleh kalah dengan
mereka yang di kota. Iip bercita-cita menjadi guru, sekaligus menjadi
petani.
Tidak meninggalkan akar
Di depan halaman sekolah terdapat lahan sekitar 2.000 meter
persegi yang dipergunakan siswa kelas I dan II untuk menanam sayur.
Saat ini mereka menanam bawang merah. Panenan yang lalu, lahan itu
menghasilkan dua kuintal bawang merah dengan harga Rp 1.300 per
kilogram. Hasilnya tidak seberapa, tetapi tugas sekolah di kebun akan
selalu mengingatkan mereka kepada akarnya sebagai anak petani.
Murid-murid Madrasah Sururon adalah anak-anak yang percaya diri.
Sekalipun sekolahnya di desa miskin yang terpencil,mereka menguasai
bagaimana berkomunikasi. Di sekolah mereka bebas mengkritik guru. Di
Madrasah Sururon, guru adalah teman belajar. Mereka sadar bahwa
orangtua mereka adalah para petani miskin, tetapi anak-anak itu tidak
rendah diri dan mau maju. Madrasah Sururon berhasil menjadikan
dirinya sebagai sumber inspirasi bagi murid-muridnya.
Madrasah Sururon mengadopsi kurikulum sekolah formal yang berlaku
secara nasional. Perbedaan yang menonjol dibandingkan sekolah formal
adalah interaksi di dalam kelas. Guru-guru yang tidak memiliki
kualifikasi formal untuk mengajar justru menjadi berkah karena jarak
antara guru dan murid menjadi tipis. Tidak hanya murid yang harus
belajar, tetapi juga guru. Guru dan murid sama-sama menjadi teman
belajar. Guru tidak menjadi satu-satunya sumber belajar.
“Kami menyelenggarakan proses belajar yang sesuai dengan
konteks. Ilustrasi jangan sampai tak relevan dengan yang dihadapi
anak-anak. Teks tidak ada artinya tanpa konteks,” kata Boy Fedro,
salah satu perintis dan guru Madrasah Sururon.
Salah satu agenda besar di balik pendirian Madrasah Sururon
adalah mencetak kader-kaderperubahan sosial di kalangan petani.
Namun, tidak ada pelajaran khusus tentang ini. Ada topik- topik
bahasan tentang keorganisasian menyangkut keberadaan dan perjuangan
Serikat Petani Pasundan. Siswa juga diajak ikut serta dalam pertemuan-
pertemuan organisasi, dalam dialog antara petani dan pemerintah atau
anggota DPRD, bahkan diajak bergabung dalam aksi demonstrasi.
Menurut Boy, keikutsertaan siswa dalam aksi demonstrasi tidak
bisa diartikan sebagai politisasi kegiatan belajar-mengajar. Anak
justru dihadapkan pada pemahaman bahwa demonstrasi merupakan salah
satu cara yang ditempuh orangtua mereka dalam memperjuangkan hak-hak
petani.
Kesetaraan dan kelanjutan
Meski tidak ada topik-topik khusus tentang toleransi dan
pluralisme, Madrasah Sururon mencoba menanamkan prinsip-prinsip
toleransi, kesetaraan, dan penghormatan terhadap orang yang berbeda
warna kulit dan agama. Dalam tradisi pesantren, kata Boy, kultur
patriarki cenderung sangat kuat.
Karena itu, dalam sekolah, kultur tersebut tidak digugat secara
langsung, tapi dipraktikkan. Dalam pembagian kelompok,misalnya,
perempuan digabung dengan laki-laki. Ketika ada acara-acara di
sekolah, perempuan tidak hanya diberikan tanggung jawab urusan
konsumsi, tetapi juga mengurus hal-hal yang berhubungan dengan
publik. Sebaliknya laki-laki juga diberi tugas mengurus konsumsi.
Boy bersama tiga rekan seperjuangannya, Ridwan Saefudin (34),
Aang Muhsan Fauzi (34), dan Muhammad Nuh (27) harus berpikir keras
bagaimana memenuhi desakan murid-murid kelas III agar Sururon membuka
jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Tanpa itu, 32 muridnya yang
ingin melanjutkan sekolah, akan putus di tengah jalan.
Gambaran pendidikan lanjutan itu sudah ada di benak pengelola
Madrasah Sururon. Mereka akan membuat sekolah yang dikaitkan dengan
usaha produksi. Ada peluang untuk mengembangkan produksi pertanian,
peternakan, atau perbengkelan untuk melayani kebutuhan lokal.
Akan tetapi, di balik semua keberhasilan dan harapan itu,
kelangsungan hidup Madrasah Sururon masih menjadi tanda tanya. Belum
satu pun guru memperoleh honorarium, apalagi gaji tetap. Biaya
operasional sekolah selama ini hanya mengandalkan bantuan dari
donatur dan organisasi. Kelangsungan itu baru terjamin tersedia lahan
sekurangnya dua hektar untuk dikelola sekolah. Keajaiban itulah yang
sampai kini belum mereka dapatkan.
Artikel ini pernah dimuat di Harian Kompas
Rabu, 19-04-2006 di halaman 13.
0 responses so far ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.