Liberasi

Sekolah Anak-anak Petani (2)

Juni 26, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

SEBUAH KEAJAIBAN DARI DESA SARIMUKTI

                        Oleh P Bambang Wisudo

 

 

    Keajaiban dalam pendidikan tidak selalu datang dari sekolah-

sekolah mahal yang bergelimangan fasilitas. Di Sarimukti, desa di

kaki bukit yang berada pada ketinggian 1.500 meter dari permukaan

laut-persisnya di kaki Gunung Papandayan, sekitar 18 kilometer dari

Garut, Jawa Barat- keajaiban itu pun terjadi.

   

    Madrasah Tsanawiyah Sururon dengan bangunan sekolah yang

bersahaja, fasilitas yang serba terbatas, dan sebagian besar gurunya

dianggap tidak layak mengajar, justru mampu melakukan perubahan.

Dalam segala kesederhanaannya, Madrasah Sururon tumbuh menjadi

sekolah yang dicintai oleh murid-murinya.

    “Saya ingin selalu berdekatan dan tak dipisahkan dari Sururon,”

kata Siti Halimah (16), murid kelas III Madrasah Sururon.

    Halimah bersama 31 kawan sekelasnya sebulan lagi akan menempuh

ujian nasional. Itu berarti beberapa bulan lagi ia harus berpisah

dengan sekolahnya. Ia ingin melanjutkan sekolah. Telah sepuluh kali

ia bertanya kepada bapaknya, tetapi belum juga ada jawaban.

    Ia berharap dapat melanjutkan di Sururon. Bila Sururon tahun

depan tidak membuka jenjang pendidikan yang lebih tinggi, ia akan

putus sekolah. Mungkin ia akan ke kota mencari nafkah, atau menjadi

buruh tani di kebun-kebun sayur yang dikuasai petani pemilik tanah,

atau sebentar lagi dikawinkan.

    Ia berharap kelak menjadi sarjana hukum. Ia ingin mengembangkan

dan membantupara petani di desanya. Ia juga ingin mengembangkan

sekolahnya. Ia mau membuktikan bahwa Sururon bukan sekolah main-main.

Petani, kata Halimah, tidak boleh dipinggirkan. Anak- anak petani,

sekalipun miskin, harus maju dan bersekolah.

    “Kalau saya jadi sarjana hukum, saya mau membela petani sekuat

mungkin,” kata Halimah. Suaranya berapi-api. Ayahnya pernah dikejar-

kejar aparat keamanan ketika operasi Wanalaga Lodaya I digelar.

Ayahnya dituduh menggerakkan petani menjarah tanah yang diklaim

sebagai areal hutan lindung.

    Apa yang dinyatakan oleh Halimah mewakili kerinduan kawan-kawan

sekelasnya. Mereka ingin melanjutkan sekolah. Lulus sekolah, mereka

ingin kembali menjadi petani dan mengembangkan sekolah. Iip Nurzaman

(17) bahkan bermimpi mendirikan perguruan tinggi di desanya. Kata

Iip, walau tinggal di desa anak-anak petani tak boleh kalah dengan

mereka yang di kota. Iip bercita-cita menjadi guru, sekaligus menjadi

petani.

 

Tidak meninggalkan akar

    Di depan halaman sekolah terdapat lahan sekitar 2.000 meter

persegi yang dipergunakan siswa kelas I dan II untuk menanam sayur.

Saat ini mereka menanam bawang merah. Panenan yang lalu, lahan itu

menghasilkan dua kuintal bawang merah dengan harga Rp 1.300 per

kilogram. Hasilnya tidak seberapa, tetapi tugas sekolah di kebun akan

selalu mengingatkan mereka kepada akarnya sebagai anak petani.

    Murid-murid Madrasah Sururon adalah anak-anak yang percaya diri.

Sekalipun sekolahnya di desa miskin yang terpencil,mereka menguasai

bagaimana berkomunikasi. Di sekolah mereka bebas mengkritik guru. Di

Madrasah Sururon, guru adalah teman belajar. Mereka sadar bahwa

orangtua mereka adalah para petani miskin, tetapi anak-anak itu tidak

rendah diri dan mau maju. Madrasah Sururon berhasil menjadikan

dirinya sebagai sumber inspirasi bagi murid-muridnya.

    Madrasah Sururon mengadopsi kurikulum sekolah formal yang berlaku

secara nasional. Perbedaan yang menonjol dibandingkan sekolah formal

adalah interaksi di dalam kelas. Guru-guru yang tidak memiliki

kualifikasi formal untuk mengajar justru menjadi berkah karena jarak

antara guru dan murid menjadi tipis. Tidak hanya murid yang harus

belajar, tetapi juga guru. Guru dan murid sama-sama menjadi teman

belajar. Guru tidak menjadi satu-satunya sumber belajar.

    “Kami menyelenggarakan proses belajar yang sesuai dengan

konteks. Ilustrasi jangan sampai tak relevan dengan yang dihadapi

anak-anak. Teks tidak ada artinya tanpa konteks,” kata Boy Fedro,

salah satu perintis dan guru Madrasah Sururon.

    Salah satu agenda besar di balik pendirian Madrasah Sururon

adalah mencetak kader-kaderperubahan sosial di kalangan petani.

Namun, tidak ada pelajaran khusus tentang ini. Ada topik- topik

bahasan tentang keorganisasian menyangkut keberadaan dan perjuangan

Serikat Petani Pasundan. Siswa juga diajak ikut serta dalam pertemuan-

pertemuan organisasi, dalam dialog antara petani dan pemerintah atau

anggota DPRD, bahkan diajak bergabung dalam aksi demonstrasi.

    Menurut Boy, keikutsertaan siswa dalam aksi demonstrasi tidak

bisa diartikan sebagai politisasi kegiatan belajar-mengajar. Anak

justru dihadapkan pada pemahaman bahwa demonstrasi merupakan salah

satu cara yang ditempuh orangtua mereka dalam memperjuangkan hak-hak

petani.

 

Kesetaraan dan kelanjutan

    Meski tidak ada topik-topik khusus tentang toleransi dan

pluralisme, Madrasah Sururon mencoba menanamkan prinsip-prinsip

toleransi, kesetaraan, dan penghormatan terhadap orang yang berbeda

warna kulit dan agama. Dalam tradisi pesantren, kata Boy, kultur

patriarki cenderung sangat kuat.

    Karena itu, dalam sekolah, kultur tersebut tidak digugat secara

langsung, tapi dipraktikkan. Dalam pembagian kelompok,misalnya,

perempuan digabung dengan laki-laki. Ketika ada acara-acara di

sekolah, perempuan tidak hanya diberikan tanggung jawab urusan

konsumsi, tetapi juga mengurus hal-hal yang berhubungan dengan

publik. Sebaliknya laki-laki juga diberi tugas mengurus konsumsi.

    Boy bersama tiga rekan seperjuangannya, Ridwan Saefudin (34),

Aang Muhsan Fauzi (34), dan Muhammad Nuh (27) harus berpikir keras

bagaimana memenuhi desakan murid-murid kelas III agar Sururon membuka

jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Tanpa itu, 32 muridnya yang

ingin melanjutkan sekolah, akan putus di tengah jalan.

    Gambaran pendidikan lanjutan itu sudah ada di benak pengelola

Madrasah Sururon. Mereka akan membuat sekolah yang dikaitkan dengan

usaha produksi. Ada peluang untuk mengembangkan produksi pertanian,

peternakan, atau perbengkelan untuk melayani kebutuhan lokal.

    Akan tetapi, di balik semua keberhasilan dan harapan itu,

kelangsungan hidup Madrasah Sururon masih menjadi tanda tanya. Belum

satu pun guru memperoleh honorarium, apalagi gaji tetap. Biaya

operasional sekolah selama ini hanya mengandalkan bantuan dari

donatur dan organisasi. Kelangsungan itu baru terjamin tersedia lahan

sekurangnya dua hektar untuk dikelola sekolah. Keajaiban itulah yang

sampai kini belum mereka dapatkan.

Artikel ini pernah dimuat di Harian Kompas

Rabu, 19-04-2006 di halaman 13.

Kategori: Tak Berkategori
Ditandai:

0 responses so far ↓

  • There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Tinggalkan sebuah Komentar