Liberasi

Sekolah Anak-anak Petani (3)

Juni 26, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

“BALE RAHAYAT”

                            DI KAMPUNG DANO

                         Oleh P Bambang Wisudo

 

    Rumah panggung berdinding bambu yang disulap menjadi ruangan

setengah terbuka itu disesaki anak-anak. Ruangan itu hanya berukuran

sekitar 35 meter persegi, tetapi harus menampung tidak kurang dari

110 anak. Mereka dibagi dalam tiga kelompok yang dipisahkan dengan

dinding bambu setinggi pinggang orang dewasa.

    Di situlah anak-anak Kampung Dano di kaki Gunung Guntur,

Kabupaten Garut, belajar. Sudah seminggu anak-anak petani di Kampung

Dano yang belajar di Sekolah Alternatif “Bale Rahayat” belajar di

bangunan yang masih bersifat darurat itu. Sebelumnya, mereka berdesak-

desakan belajar di emperan masjid. Ketika hujan, air tempias, yang

membuat mereka basah kedinginan.

    “Dulu saya sempat ngeri bila hujan deras disertai angin. Anak-

anak basah kuyup. Sekarang ada tempat belajar buat anak-anak, walau

seadanya. Saya akan berusaha sekuat tenaga ikut mengajar di sini,”

kata Dede, warga Dano yang ikut mengajar di situ.

    Dalam fasilitas yang sangat terbatas, anak-anak tersebut antusias

belajar. Tidak ada anak yang putus di tengah jalan. Tingkat kehadiran

di sekolah alternatif ini mendekati 100 persen. “Gedung SD Inpres

memang lebih bagus, tetapi saya lebih senang belajar di sini. Lebih

bebas dan tidak jenuh,” tutur Saripah (14).

    Ruangan yang sempit itu dipergunakan untuk tiga kelompok.

Kelompok pertama, terdiri atas anak-anak yang belum mahir baca-tulis

dan berhitung. Kelompok kedua, anak-anak yang masih bersekolah di

sekolah formal kelas V dan VI. Kelompok ketiga, anak-anak putus

sekolah yang telah mahir baca-tulis dan berhitung. Tentu saja ruangan

sangat berisik. Suara guru yang sedang mengajar bahasa Inggris

campur-baur dengan suara anak yang sedang membaca dan bernyanyi di

dua kelompok lain.

    Sekitar 20 meter dari rumah tersebut, 73 anak usia prasekolah

belajar berdesak-desakan di rumah Ustad Saefulloh (39). Ruang tamu

seluas 20 meter persegi tidak mampu menampung semua anak. Sejumlah

anak terpaksa duduk di luar. Di dalam ruangan, anak-anak duduk di

lantai tanpa melepaskan tas ransel mereka.

    Ruangan terlalu sempit untuk menaruh tas, apalagi untuk

menggambar dan menulis. Kesempatan menggambar dan menulis hanyalah di

papan tulis. Buku bacaan anak bertumpuk bersama buku-buku lain di

sebuah sofa tua. Tidak jarang istri Saefulloh yang tidak tamat SD

ikut turun tangan mengajar.

    Sejumlah mahasiswa dan alumni Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu

Pendidikan (STKIP) Garut dan Universitas Garut mengajar di sekolah

tersebut. Mereka harus merogoh kocek sendiri untuk datang ke Kampung

Dano.

    Aspal yang mengelupas dan jalan terjal berbatu-batu membuat

ongkos ojek ke lokasi menjadi mahal. Setelah harga BBM naik, ongkos

ojek menuju lokasi bisa mencapai Rp 15.000 sekali jalan. Ongkos

transportasi yang mahal itu sering menghambat mereka datang ke

sekolah.

    Masalah transportasi itu relatif terpecahkan setelah dana untuk

membeli motor bekas terkumpul. Sepeda motor tua keluaran 1993 dibeli

dengan hargaRp 3,4 juta. Uang untuk membeli bensin ditanggung bersama.

    “Sepeda motor ini kadang-kadang harus naik-turun ke Dano dua-

tiga kali sehari,” kata Kokon Koswara, Koordinator Sekolah

Alternatif “Bale Rahayat”.

 

Sempat diragukan

    Dalam kondisi serba terbatas, Sekolah Alternatif “Bale Rahayat”

telah berjalan selama satu tahun. Aparat desa semula ragu kegiatan

pendidikan itu bisa bertahan. Ternyata, berkat komitmen sejumlah

tokoh masyarakat dan mahasiswa, “Bale Rahayat” bisa menjadi

alternatif bagi anak-anak Kampung Dano. Bila semula sebagian besar

anak putus sekolah di tingkat SD dan tidak lancar baca, tulis, dan

berhitung, kini anak-anak itu antusias belajar. Dulu anak laki-laki

yang memasuki masa remaja sudah harus meninggalkan kampungnya,

bekerja sebagai buruh anak di kota, kini mereka bisa tetap bermain

dan belajar.

    “Saya bangga ada kemajuan pada anak-anak,” kata Dahlan, salah

satu orangtua murid.

    Kemajuan itu memang ada. Menurut Saefulloh, sebelum ada kegiatan

belajar di “Bale Rahayat” masih ada anak kelas V SD yang belum bisa

membaca kata “kompor”. Berbekal dari pelatihan yang pernah

diikutinya, Saefulloh mengajarkan membaca dan menulis kepada anak-

anak dari benda-benda yang ada di sekitar anak. Untuk mengatasi

jumlah anak yang berjejal-jejal, ia juga menggambar benda-benda di

papan tulis sambil mengajarkan anak-anak menulis.

    “Bila tidak ada kawan-kawan mahasiswa dari Garut, saya harus

mengajar sampai kecapaian.Anak-anak mengharapkan pelajaran, sementara

saya sudah kelelahan,” kata Saefulloh.

    Asep, lulusan Universitas Garut yang sehari-hari bekerja di

industri rumah tangga konveksi kulit, ikut meluangkan waktunya untuk

mengajar. Ia juga menyatakan kegembiraannya, sebagian besar anak kini

telah mampu membaca dan menulis. Ia sering mengajak anak-anak ke luar

ruangan kelas, diajak berjalan ke kebun sambil belajar. Anak-anak itu

bisa menjelaskan runtut bagaimana pohon labu ditanam sampai berbuah.

Belajar dari lingkungan sekitar terus dikembangkan di “Bale Rahayat.”

    “Bale Rahayat” juga menjadi tempat penyemaian calon-calon guru

yang mampu berpikir transformatif. Sejumlah mahasiswa semester awal

STKIP Garut mendapatkan kesempatanmempraktikkan kemampuan

mengajarnya. Terkadang mereka harus bermalam di rumah penduduk. Dani

(20), mahasiswa semester II, telah cukup terampil menguasai kelas.

Dengan berbagai macam permainan ia bisa membuat anak-anak yang

berdesak-desakan tetap fokus dengan topik yang dibahas.

    Dengan berbekal satu buku kumpulan soal, ia menggunakan soal-soal

pilihan ganda secara kreatif. Sekitar 30 anak dalam kelompoknya

dibagi dalam empat grup. Soal-soal dipakainya untuk membuat kuis.

Sebelum sampai pada pilihan-pilihan jawaban yang ditawarkan di buku,

anak dibebaskan menjawab sesuai pendapat mereka. Tidak berhenti di

situ, Dani juga meminta anak-anak memberikan alasan terhadap jawaban

yang diberikan.

    “Kelak saya ingin membuka madrasah di kampung saya,” kata Dani.

    Usai kegiatan belajar, sejumlah 18 siswa Bale Rahayat yang duduk

di kelas VI SD negeri masih berkumpul di Bale Rahayat. Mereka hanya

berbisik-bisik ketika ditanya siapa yang akan melanjutkan pendidikan

ke SMP. Tidak ada yang menjawab. Begitu pula ketika ditanya

sebaliknya, siapa yang tidak akan melanjutkan pendidikan ke SMP.

Tidak ada yang mengacungkan jari. Ketika ditanya siapa yang akan

melanjutkan ke SMP bila “Bale Rahayat” menyelenggarakan pendidikan

SMP, mereka serentak mengacungkan jari dan menjawab.

    Menurut penuturan anak- anak, mereka tidak memiliki biaya untuk

bersekolah ke SMP di luar desa. Jarak dari desa kesekolah terdekat

sekitar lima kilometer. Hanya bisa ditempuh dengan ojek. Ongkos ojek

sehari Rp 5.000. Itu pun bila mengangkut dua anak sekaligus.

    Saat ini hanya dua anak Kampung Dano yang melanjutkan pendidikan

ke SMP. Salah satunya Hidayat (13), yang kadang terpaksa membolos

karena tidak punya ongkos. Ia ikut-ikutan tidak masuk bila kawannya

sekampung tidak ke sekolah.

    “Ongkosnya lebih mahal,” tutur Hidayat.

    Ia kemungkinan besar akan bergabung dengan teman-temannya,

kembali dari kelas I, bila “Bale Rahayat” membuka SMP. Tanpa ada SMP

alternatif di Kampung Dano, anak-anak usia wajib belajar di situ

hampir dipastikan putus sekolah. Masihkah ada orang-orang yang peduli

pada mereka?

Artikel ini pernah dimuat di Harian Kompas 

Kamis, 20-04-2006, halaman: 14

Kategori: Tak Berkategori
Ditandai:

0 responses so far ↓

  • There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Tinggalkan sebuah Komentar