“BALE RAHAYAT”
DI KAMPUNG DANO
Oleh P Bambang Wisudo
Rumah panggung berdinding bambu yang disulap menjadi ruangan
setengah terbuka itu disesaki anak-anak. Ruangan itu hanya berukuran
sekitar 35 meter persegi, tetapi harus menampung tidak kurang dari
110 anak. Mereka dibagi dalam tiga kelompok yang dipisahkan dengan
dinding bambu setinggi pinggang orang dewasa.
Di situlah anak-anak Kampung Dano di kaki Gunung Guntur,
Kabupaten Garut, belajar. Sudah seminggu anak-anak petani di Kampung
Dano yang belajar di Sekolah Alternatif “Bale Rahayat” belajar di
bangunan yang masih bersifat darurat itu. Sebelumnya, mereka berdesak-
desakan belajar di emperan masjid. Ketika hujan, air tempias, yang
membuat mereka basah kedinginan.
“Dulu saya sempat ngeri bila hujan deras disertai angin. Anak-
anak basah kuyup. Sekarang ada tempat belajar buat anak-anak, walau
seadanya. Saya akan berusaha sekuat tenaga ikut mengajar di sini,”
kata Dede, warga Dano yang ikut mengajar di situ.
Dalam fasilitas yang sangat terbatas, anak-anak tersebut antusias
belajar. Tidak ada anak yang putus di tengah jalan. Tingkat kehadiran
di sekolah alternatif ini mendekati 100 persen. “Gedung SD Inpres
memang lebih bagus, tetapi saya lebih senang belajar di sini. Lebih
bebas dan tidak jenuh,” tutur Saripah (14).
Ruangan yang sempit itu dipergunakan untuk tiga kelompok.
Kelompok pertama, terdiri atas anak-anak yang belum mahir baca-tulis
dan berhitung. Kelompok kedua, anak-anak yang masih bersekolah di
sekolah formal kelas V dan VI. Kelompok ketiga, anak-anak putus
sekolah yang telah mahir baca-tulis dan berhitung. Tentu saja ruangan
sangat berisik. Suara guru yang sedang mengajar bahasa Inggris
campur-baur dengan suara anak yang sedang membaca dan bernyanyi di
dua kelompok lain.
Sekitar 20 meter dari rumah tersebut, 73 anak usia prasekolah
belajar berdesak-desakan di rumah Ustad Saefulloh (39). Ruang tamu
seluas 20 meter persegi tidak mampu menampung semua anak. Sejumlah
anak terpaksa duduk di luar. Di dalam ruangan, anak-anak duduk di
lantai tanpa melepaskan tas ransel mereka.
Ruangan terlalu sempit untuk menaruh tas, apalagi untuk
menggambar dan menulis. Kesempatan menggambar dan menulis hanyalah di
papan tulis. Buku bacaan anak bertumpuk bersama buku-buku lain di
sebuah sofa tua. Tidak jarang istri Saefulloh yang tidak tamat SD
ikut turun tangan mengajar.
Sejumlah mahasiswa dan alumni Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu
Pendidikan (STKIP) Garut dan Universitas Garut mengajar di sekolah
tersebut. Mereka harus merogoh kocek sendiri untuk datang ke Kampung
Dano.
Aspal yang mengelupas dan jalan terjal berbatu-batu membuat
ongkos ojek ke lokasi menjadi mahal. Setelah harga BBM naik, ongkos
ojek menuju lokasi bisa mencapai Rp 15.000 sekali jalan. Ongkos
transportasi yang mahal itu sering menghambat mereka datang ke
sekolah.
Masalah transportasi itu relatif terpecahkan setelah dana untuk
membeli motor bekas terkumpul. Sepeda motor tua keluaran 1993 dibeli
dengan hargaRp 3,4 juta. Uang untuk membeli bensin ditanggung bersama.
“Sepeda motor ini kadang-kadang harus naik-turun ke Dano dua-
tiga kali sehari,” kata Kokon Koswara, Koordinator Sekolah
Alternatif “Bale Rahayat”.
Sempat diragukan
Dalam kondisi serba terbatas, Sekolah Alternatif “Bale Rahayat”
telah berjalan selama satu tahun. Aparat desa semula ragu kegiatan
pendidikan itu bisa bertahan. Ternyata, berkat komitmen sejumlah
tokoh masyarakat dan mahasiswa, “Bale Rahayat” bisa menjadi
alternatif bagi anak-anak Kampung Dano. Bila semula sebagian besar
anak putus sekolah di tingkat SD dan tidak lancar baca, tulis, dan
berhitung, kini anak-anak itu antusias belajar. Dulu anak laki-laki
yang memasuki masa remaja sudah harus meninggalkan kampungnya,
bekerja sebagai buruh anak di kota, kini mereka bisa tetap bermain
dan belajar.
“Saya bangga ada kemajuan pada anak-anak,” kata Dahlan, salah
satu orangtua murid.
Kemajuan itu memang ada. Menurut Saefulloh, sebelum ada kegiatan
belajar di “Bale Rahayat” masih ada anak kelas V SD yang belum bisa
membaca kata “kompor”. Berbekal dari pelatihan yang pernah
diikutinya, Saefulloh mengajarkan membaca dan menulis kepada anak-
anak dari benda-benda yang ada di sekitar anak. Untuk mengatasi
jumlah anak yang berjejal-jejal, ia juga menggambar benda-benda di
papan tulis sambil mengajarkan anak-anak menulis.
“Bila tidak ada kawan-kawan mahasiswa dari Garut, saya harus
mengajar sampai kecapaian.Anak-anak mengharapkan pelajaran, sementara
saya sudah kelelahan,” kata Saefulloh.
Asep, lulusan Universitas Garut yang sehari-hari bekerja di
industri rumah tangga konveksi kulit, ikut meluangkan waktunya untuk
mengajar. Ia juga menyatakan kegembiraannya, sebagian besar anak kini
telah mampu membaca dan menulis. Ia sering mengajak anak-anak ke luar
ruangan kelas, diajak berjalan ke kebun sambil belajar. Anak-anak itu
bisa menjelaskan runtut bagaimana pohon labu ditanam sampai berbuah.
Belajar dari lingkungan sekitar terus dikembangkan di “Bale Rahayat.”
“Bale Rahayat” juga menjadi tempat penyemaian calon-calon guru
yang mampu berpikir transformatif. Sejumlah mahasiswa semester awal
STKIP Garut mendapatkan kesempatanmempraktikkan kemampuan
mengajarnya. Terkadang mereka harus bermalam di rumah penduduk. Dani
(20), mahasiswa semester II, telah cukup terampil menguasai kelas.
Dengan berbagai macam permainan ia bisa membuat anak-anak yang
berdesak-desakan tetap fokus dengan topik yang dibahas.
Dengan berbekal satu buku kumpulan soal, ia menggunakan soal-soal
pilihan ganda secara kreatif. Sekitar 30 anak dalam kelompoknya
dibagi dalam empat grup. Soal-soal dipakainya untuk membuat kuis.
Sebelum sampai pada pilihan-pilihan jawaban yang ditawarkan di buku,
anak dibebaskan menjawab sesuai pendapat mereka. Tidak berhenti di
situ, Dani juga meminta anak-anak memberikan alasan terhadap jawaban
yang diberikan.
“Kelak saya ingin membuka madrasah di kampung saya,” kata Dani.
Usai kegiatan belajar, sejumlah 18 siswa Bale Rahayat yang duduk
di kelas VI SD negeri masih berkumpul di Bale Rahayat. Mereka hanya
berbisik-bisik ketika ditanya siapa yang akan melanjutkan pendidikan
ke SMP. Tidak ada yang menjawab. Begitu pula ketika ditanya
sebaliknya, siapa yang tidak akan melanjutkan pendidikan ke SMP.
Tidak ada yang mengacungkan jari. Ketika ditanya siapa yang akan
melanjutkan ke SMP bila “Bale Rahayat” menyelenggarakan pendidikan
SMP, mereka serentak mengacungkan jari dan menjawab.
Menurut penuturan anak- anak, mereka tidak memiliki biaya untuk
bersekolah ke SMP di luar desa. Jarak dari desa kesekolah terdekat
sekitar lima kilometer. Hanya bisa ditempuh dengan ojek. Ongkos ojek
sehari Rp 5.000. Itu pun bila mengangkut dua anak sekaligus.
Saat ini hanya dua anak Kampung Dano yang melanjutkan pendidikan
ke SMP. Salah satunya Hidayat (13), yang kadang terpaksa membolos
karena tidak punya ongkos. Ia ikut-ikutan tidak masuk bila kawannya
sekampung tidak ke sekolah.
“Ongkosnya lebih mahal,” tutur Hidayat.
Ia kemungkinan besar akan bergabung dengan teman-temannya,
kembali dari kelas I, bila “Bale Rahayat” membuka SMP. Tanpa ada SMP
alternatif di Kampung Dano, anak-anak usia wajib belajar di situ
hampir dipastikan putus sekolah. Masihkah ada orang-orang yang peduli
pada mereka?
Artikel ini pernah dimuat di Harian Kompas
Kamis, 20-04-2006, halaman: 14
0 responses so far ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.