MADRASAH SURURON, HARAPAN DESA SARIMUKTI
Oleh P Bambang Wisudo
Angin sepoi-sepoi. Bunyi gemericik air, dan sayup- sayup suara
kambing mengembik, membuat suasana damai di Desa Sarimukti. Desa itu
terletak di ketinggian 1.500 meter dari permukaan laut, persis di
kaki Gunung Papandayan, sekitar 18 kilometer dari Kota Garut, Jawa
Barat.
Di situlah berdiri Madrasah Tsanawiyah Sururon, sekolah
alternatif yang menjadi tumpuan harapan dan sumber inspirasi anak-
anak petani miskin di Garut.
Dua tahun lalu, Madrasah Sururon mendirikan bangunan sekolah yang
baru. Bangunan sekolah itu merupakan sebuah rumah panggung memanjang,
yang berdiri di atas sebuah kolam. Dindingnya kayu, di dalamnya
berlapis anyaman bambu. Anak-anak belajar tanpa bangku. Mereka duduk
di lantai kayu. Mejanya segi enam yang dibelah dua, ringan, dan mudah
dipindahkan. Di depan halaman sekolah, tanaman sayur terhampar di
bukit-bukit sepanjang mata memandang.
Bangunan sekolah yang bersahabat, tidak berbeda jauh dengan rumah
mereka, justru membuat anak-anak kerasan di sekolah. Ketika desa itu
dingin berkabut, di dalam ruang kelas terasa hangat. Ketika gempa
mengguncang Garut, April 2005, bangunan itu tetap kokoh berdiri,
sementara bangunan pesantren yang berdinding batu retak cukup parah.
Madrasah Sururon merupakan sekolah yang diimpikan anak-anak petani di
Sarimukti yang selama ini putus sekolah setamat SD.
“Saya lebih senang bangunan sekolah seperti ini. Di kampung saya
seperti ini. Saya tidak merasa berada di sekolah karena suasananya
seperti di rumah,” kata Herawati (17), siswa kelas III dari Desa
Bungbulang, Garut selatan.
Empat tahun lalu, hanya satu-dua anak Sarimukti yang bisa
melanjutkan sekolah ke tingkat SLTP. Ongkos naik ojek sekali jalan
sama dengan upah buruh tani sehari kerja.
Setamat SD, sebagian masih gagap membaca dan menulis, sebagian
anak-anak itu bergabung dengan orangtua mereka menjadi buruh petani
sayur. Pagi-pagi mereka di bawa dengan truk, berdesak-desakan dengan
orang- orang dewasa, dikirim ke bukit- bukit untuk menggarap tanah.
Sebagian lagi tinggal mengasuh adik-adik mereka di rumah. Begitulah
mereka menghabiskan masa remajanya sebelum akhirnya kawin dan menjadi
buruh tani seperti orangtua mereka.
Memilih bentuk formal
Ide mendirikan madrasah muncul dari pembicaraan antara para
petani di Desa Sarimukti, pengasuh Pondok Pesantren Sururon, dan
aktivis Serikat Petani Pasundan. Menurut Boy Fidro, salah satu
perintis Madrasah Sururon, mereka tidak memilih jalur informal yang
dianggap terlalu radikal. Akan tetapi, mereka juga tidak ingin
membangun sebuah sekolah yang mengasingkan dari dunia di sekitarnya.
“Sekolah ini dibangun di atas komunitas dan lulusannya akan
kembali bekerja untuk memenuhi kebutuhan komunitas. Kami tidak ingin
menjadi sekolah yang hanya mengajarkan ilmu untuk pergi,” kata Boy.
Juli 2003, Madrasah Sururon memulai kegiatan belajar-mengajar
dengan 64 murid. Sebagian berasal dari desa-desa di Jawa Barat bagian
selatan yang menjadi wilayah dampingan Serikat Petani Pasundan. Anak-
anak yang datang dari luar Sarimukti, tinggal di pesantren atau di
pondok guru. Baru tiga bulan sekolah itu berlangsung,
Perhutani menggelar operasi Wanalaga Lodaya I di areal yang direklaim
petani. Sejumlah petani kabur atau kehilangan mata pencarian. Operasi
itu membuat kehidupan petani Sarimukti makin terjepit. Dampaknya
terasa sampai ke sekolah. Jumlah murid Madrasah Sururon anjlok
menjadi setengahnya.
Saat ini murid Madrasah Sururon berjumlah 138 anak, kelas I
dibagi dua kelas. Sekitar 80 persen lulusan SD di Sarimukti
mengandalkan Madrasah Sururon untuk kelanjutan pendidikan mereka.
Sebagian besar guru Madrasah Sururon tidak memiliki kompetensi
formal untuk mengajar siswa SLTP. Dari delapan guru tetap dan delapan
guru honorer, hanya dua orang yang berijazah sarjana (S1). Dua orang
yang hanya mengantongi ijazah SMA, sebagian besar sisanya lulusan SMP.
Deden Suparman (26), guru bahasa Inggris, secara formal hanya
lulusan SMP. Keterampilan bahasa Inggris-nya diperoleh dari kursus
selama enam bulan. Menjelang anak-anak kelas III Madrasah Sururon
mengikuti ujian nasional, Deden akan mengikuti ujian kesetaraan Paket
C. Setelah itu ia akan mengikuti melanjutkan pendidikannya di
Universitas Terbuka.
“Saya tidak mau menempatkan diri dalam posisi sebagai guru. Saya
mau belajar sambil mengajar,” kata Deden.
Ridwan Saefudin (34), lulusan SMA, mengajar matematika. Ia
belajar mengajar matematika dengan mengamati bagaimana Boy Fidro
mengajar matematika. Boy, lulusan ITB, merupakan fasilitator dalam
pertemuan-pertemuan organisasi nonpemerintah. “Pada tahun pertama,
ketika Boy mengajar, saya duduk di belakang. Kadang-kadang saya
diminta murid-murid menjelaskan di depan kelas. Tahun kedua saya
diberi kepercayaan penuh untuk mengajar,” kata Ridwan.
Keberhasilan mereka mengajar secara formal akan diukur dari
sejauh mana keberhasilan anak-anak kelas III yang tahun ini akan
mengikuti ujian nasional. Tetapi, kata Boy, tidak akan ada akal-
akalan untuk menyiasati nilai ujian nasional, sekalipun ujian akan
diadakan di sekolah sendiri.
“Selama ini tidak ada siswa yang menyontek. Kami selalu
menekankan pentingnya menghargai nilai yang dicapai. Kejujuran itu
penting, kalau dapat nilai tiga, itu ukuran bahwa kemampuan kita baru
di situ,” tutur Boy.
Tanpa biaya
Tidak ada biaya yang dipungut dari orangtua murid. Biaya
operasional sekolah dihimpun dari para donatur dan bantuan dari
organisasi. Ketika sekolah memperbaiki atau mendirikan bangunan,
orangtua murid menyumbang bahan bangunan atau tenaga. Interaksi guru
dengan orangtua murid begitu dekat. Guru sering diundang makan atau
dikirimi bahan makanan dari orangtua murid. Tidak ada gaji bulanan
untuk guru-guru di sana. Mereka hidup bersama masyarakat.
Kedekatan sekolah dengan masyarakat juga tercermin dari bagaimana
sekolah membangun komunikasi dengan warga. Pengumuman dan pembicaraan
tentang sekolah sering dilakukan di dalam masjid, sehabis sembahyang
Jumat. Sebulan sekali ada pengajian orangtua murid. Dalam forum itu
perkembangan sekolah dibicarakan.
“Saya bersyukur ada sekolah ini. Jangan sampai anak saya bodoh
seperti bapaknya,” kata Dadan (64). Anak pertamanya, Sohib (15),
kini duduk di kelas III.
Dadan menuturkan, tidak masalah bila anaknya kembali bertani
setelah bersekolah. Dengan menguasai ilmu, ia berharap hasil yang
dicapai anaknya lebih baik dari yang ia peroleh selama
ini. “Kalaupun nanti harus nyangkul tidak apa-apa asalkan berilmu.
Kalau ke kota, juga ilmunya yang dipakai,” tuturnya.
Di tengah beratnya kehidupan yang dihadapi, Dadan masih bisa
bernapas lega. Anaknya paling bungsu, Saefullah (11), dipastikan bisa
melanjutkan ke SLTP. Jauh-jauh hari Saefullah telah menyatakan
keinginannya untuk melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Sururon. Ia
tidak harus menghabiskan masa remajanya di kebun-kebun sayur milik
petani bermodal besar. Ia tetap bisa bermain sambil belajar.
“Saya bersyukur ada sekolah ini. Jangan sampai anak saya bodoh seperti
bapaknya. Kalaupun nanti harus nyangkul tidak apa-apa asalkan berilmu, ” kata Dadan.
Artikel ini pernah dimuat di Harian Kompas
18 April 2004
Halaman 14
0 responses so far ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.