Liberasi

Sekolah Anak-anak Petani (1)

Juni 26, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

MADRASAH SURURON, HARAPAN DESA SARIMUKTI

                        

Oleh P Bambang Wisudo

 

    Angin sepoi-sepoi. Bunyi gemericik air, dan sayup- sayup suara

kambing mengembik, membuat suasana damai di Desa Sarimukti. Desa itu

terletak di ketinggian 1.500 meter dari permukaan laut, persis di

kaki Gunung Papandayan, sekitar 18 kilometer dari Kota Garut, Jawa

Barat.

    Di situlah berdiri Madrasah Tsanawiyah Sururon, sekolah

alternatif yang menjadi tumpuan harapan dan sumber inspirasi anak-

anak petani miskin di Garut.

    Dua tahun lalu, Madrasah Sururon mendirikan bangunan sekolah yang

baru. Bangunan sekolah itu merupakan sebuah rumah panggung memanjang,

yang berdiri di atas sebuah kolam. Dindingnya kayu, di dalamnya

berlapis anyaman bambu. Anak-anak belajar tanpa bangku. Mereka duduk

di lantai kayu. Mejanya segi enam yang dibelah dua, ringan, dan mudah

dipindahkan. Di depan halaman sekolah, tanaman sayur terhampar di

bukit-bukit sepanjang mata memandang.

    Bangunan sekolah yang bersahabat, tidak berbeda jauh dengan rumah

mereka, justru membuat anak-anak kerasan di sekolah. Ketika desa itu

dingin berkabut, di dalam ruang kelas terasa hangat. Ketika gempa

mengguncang Garut, April 2005, bangunan itu tetap kokoh berdiri,

sementara bangunan pesantren yang berdinding batu retak cukup parah.

Madrasah Sururon merupakan sekolah yang diimpikan anak-anak petani di

Sarimukti yang selama ini putus sekolah setamat SD.

    “Saya lebih senang bangunan sekolah seperti ini. Di kampung saya

seperti ini. Saya tidak merasa berada di sekolah karena suasananya

seperti di rumah,” kata Herawati (17), siswa kelas III dari Desa

Bungbulang, Garut selatan.

    Empat tahun lalu, hanya satu-dua anak Sarimukti yang bisa

melanjutkan sekolah ke tingkat SLTP. Ongkos naik ojek sekali jalan

sama dengan upah buruh tani sehari kerja.

    Setamat SD, sebagian masih gagap membaca dan menulis, sebagian

anak-anak itu bergabung dengan orangtua mereka menjadi buruh petani

sayur. Pagi-pagi mereka di bawa dengan truk, berdesak-desakan dengan

orang- orang dewasa, dikirim ke bukit- bukit untuk menggarap tanah.

Sebagian lagi tinggal mengasuh adik-adik mereka di rumah. Begitulah

mereka menghabiskan masa remajanya sebelum akhirnya kawin dan menjadi

buruh tani seperti orangtua mereka.

 

Memilih bentuk formal

    Ide mendirikan madrasah muncul dari pembicaraan antara para

petani di Desa Sarimukti, pengasuh Pondok Pesantren Sururon, dan

aktivis Serikat Petani Pasundan. Menurut Boy Fidro, salah satu

perintis Madrasah Sururon, mereka tidak memilih jalur informal yang

dianggap terlalu radikal. Akan tetapi, mereka juga tidak ingin

membangun sebuah sekolah yang mengasingkan dari dunia di sekitarnya.

    “Sekolah ini dibangun di atas komunitas dan lulusannya akan

kembali bekerja untuk memenuhi kebutuhan komunitas. Kami tidak ingin

menjadi sekolah yang hanya mengajarkan ilmu untuk pergi,” kata Boy.

    Juli 2003, Madrasah Sururon memulai kegiatan belajar-mengajar

dengan 64 murid. Sebagian berasal dari desa-desa di Jawa Barat bagian

selatan yang menjadi wilayah dampingan Serikat Petani Pasundan. Anak-

anak yang datang dari luar Sarimukti, tinggal di pesantren atau di

pondok guru. Baru tiga bulan sekolah itu berlangsung,

Perhutani menggelar operasi Wanalaga Lodaya I di areal yang direklaim

petani. Sejumlah petani kabur atau kehilangan mata pencarian. Operasi

itu membuat kehidupan petani Sarimukti makin terjepit. Dampaknya

terasa sampai ke sekolah. Jumlah murid Madrasah Sururon anjlok

menjadi setengahnya.

    Saat ini murid Madrasah Sururon berjumlah 138 anak, kelas I

dibagi dua kelas. Sekitar 80 persen lulusan SD di Sarimukti

mengandalkan Madrasah Sururon untuk kelanjutan pendidikan mereka.

    Sebagian besar guru Madrasah Sururon tidak memiliki kompetensi

formal untuk mengajar siswa SLTP. Dari delapan guru tetap dan delapan

guru honorer, hanya dua orang yang berijazah sarjana (S1). Dua orang

yang hanya mengantongi ijazah SMA, sebagian besar sisanya lulusan SMP.

    Deden Suparman (26), guru bahasa Inggris, secara formal hanya

lulusan SMP. Keterampilan bahasa Inggris-nya diperoleh dari kursus

selama enam bulan. Menjelang anak-anak kelas III Madrasah Sururon

mengikuti ujian nasional, Deden akan mengikuti ujian kesetaraan Paket

C. Setelah itu ia akan mengikuti melanjutkan pendidikannya di

Universitas Terbuka.

    “Saya tidak mau menempatkan diri dalam posisi sebagai guru. Saya

mau belajar sambil mengajar,” kata Deden.

    Ridwan Saefudin (34), lulusan SMA, mengajar matematika. Ia

belajar mengajar matematika dengan mengamati bagaimana Boy Fidro

mengajar matematika. Boy, lulusan ITB, merupakan fasilitator dalam

pertemuan-pertemuan organisasi nonpemerintah. “Pada tahun pertama,

ketika Boy mengajar, saya duduk di belakang. Kadang-kadang saya

diminta murid-murid menjelaskan di depan kelas. Tahun kedua saya

diberi kepercayaan penuh untuk mengajar,” kata Ridwan.

    Keberhasilan mereka mengajar secara formal akan diukur dari

sejauh mana keberhasilan anak-anak kelas III yang tahun ini akan

mengikuti ujian nasional. Tetapi, kata Boy, tidak akan ada akal-

akalan untuk menyiasati nilai ujian nasional, sekalipun ujian akan

diadakan di sekolah sendiri.

    “Selama ini tidak ada siswa yang menyontek. Kami selalu

menekankan pentingnya menghargai nilai yang dicapai. Kejujuran itu

penting, kalau dapat nilai tiga, itu ukuran bahwa kemampuan kita baru

di situ,” tutur Boy.

 

Tanpa biaya

    Tidak ada biaya yang dipungut dari orangtua murid. Biaya

operasional sekolah dihimpun dari para donatur dan bantuan dari

organisasi. Ketika sekolah memperbaiki atau mendirikan bangunan,

orangtua murid menyumbang bahan bangunan atau tenaga. Interaksi guru

dengan orangtua murid begitu dekat. Guru sering diundang makan atau

dikirimi bahan makanan dari orangtua murid. Tidak ada gaji bulanan

untuk guru-guru di sana. Mereka hidup bersama masyarakat.

    Kedekatan sekolah dengan masyarakat juga tercermin dari bagaimana

sekolah membangun komunikasi dengan warga. Pengumuman dan pembicaraan

tentang sekolah sering dilakukan di dalam masjid, sehabis sembahyang

Jumat. Sebulan sekali ada pengajian orangtua murid. Dalam forum itu

perkembangan sekolah dibicarakan.

    “Saya bersyukur ada sekolah ini. Jangan sampai anak saya bodoh

seperti bapaknya,” kata Dadan (64). Anak pertamanya, Sohib (15),

kini duduk di kelas III.

    Dadan menuturkan, tidak masalah bila anaknya kembali bertani

setelah bersekolah. Dengan menguasai ilmu, ia berharap hasil yang

dicapai anaknya lebih baik dari yang ia peroleh selama

ini. “Kalaupun nanti harus nyangkul tidak apa-apa asalkan berilmu.

Kalau ke kota, juga ilmunya yang dipakai,” tuturnya.

    Di tengah beratnya kehidupan yang dihadapi, Dadan masih bisa

bernapas lega. Anaknya paling bungsu, Saefullah (11), dipastikan bisa

melanjutkan ke SLTP. Jauh-jauh hari Saefullah telah menyatakan

keinginannya untuk melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Sururon. Ia

tidak harus menghabiskan masa remajanya di kebun-kebun sayur milik

petani bermodal besar. Ia tetap bisa bermain sambil belajar.

  

“Saya bersyukur ada sekolah ini. Jangan sampai anak saya bodoh seperti

bapaknya. Kalaupun nanti harus nyangkul tidak apa-apa asalkan berilmu, ” kata Dadan.

 

Artikel ini pernah dimuat di Harian Kompas

18 April 2004

Halaman 14

Kategori: Tak Berkategori
Ditandai:

0 responses so far ↓

  • There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Tinggalkan sebuah Komentar