Liberasi

Pendidikan Alternatif:

Juli 12, 2008 · & Komentar

ANTARA PERLAWANAN DAN IJAZAH

                      

 Oleh: P Bambang Wisudo

 

Tanpa bersentuhan dengan pendidikan alternatif, Haryanti (34)

mungkin tidak akan mempunyai cita-cita masuk perguruan tinggi atau

bekerja menjadi guru.

 

Sekolah telah lama ditinggalkan Harti, demikian ia biasa

dipanggil, ketika Sanggar Anak Alam berdiri di kampungnya di Lawen,

Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Seperti kebanyakan anak-anak

desa pada masa itu, Harti berhenti sekolah setamat SD. Lepas dari

sekolah ia hanya membantu ibunya mengerjakan tugas di dapur atau

membantu bekerja di kebun. Sesekali ia belajar menari di grup

ketoprak yang diasuh ayahnya.

 

Harti, gadis yang cepat belajar. Berbagai keterampilan cepat

dikuasainya. Ia juga rajin membaca. Bakatnya mengajar juga tumbuh

dengan pesat. Karena itu, meski hanya mengantongi ijazah SD, ia

dipercaya mengajar di taman kanak-kanak (TK) yang didirikan Sanggar

Anak Alam. Kegiatan TK itu terhenti setelah berjalan lima tahun

setelah muncul protes karena gurunya hanya lulusan SD.

 

Harti tak putus asa. Keinginannya mengajar muncul kembali saat ia

hijrah mengikuti suaminya ke Jombang, Jawa Timur. Ia direkrut untuk

mengajar di TK Yayasan Al Muhamadi milik budayawan Emha Ainun Najib.

Sambil mengajar, ia ikut program kelompok belajar. Berbekal ijazah

penyetaraan itu, ia kini melanjutkan kuliah program Diploma

Pendidikan Guru TK.

 

“Saya membutuhkan ijazah untuk menunjang kegiatan saya mengajar,”

ujarnya.

 

Cita-cita tak bisa dicegah

Sekolah alternatif muncul sebagai respons terhadap kealpaan

negara dalam memberikan hak-hak pendidikan kepada masyarakat bawah.

Para aktivis pendidikan alternatif dengan sadar mendesain agar tumbuh

kesadaran kritis pada anak didiknya, membantu mereka menemukan jalan

untuk keluar dari kemiskinan yang membelenggu mereka. Kesadaran

kritis terhadap sistem yang memiskinkan merupakan agenda penting

dalam pendidikan alternatif.

 

Akan tetapi, ketika kesadaran itu tumbuh, anak-anak tersebut

tidak sekadar ingin memperoleh pekerjaan yang layak agar dapat keluar

dari kemiskinan yang mengimpit keluarganya. Mereka bahkan memiliki

keinginan dan cita-cita yang tidak kalah dengan anak-anak “normal”.

 

Sebutlah Dede Supriyatna (21). Dede, yang dipanggil Ambon oleh

kawan-kawannya, melewatkan masa kecil dengan menjual koran di

perempatan jalan di Jakarta. Bapaknya dulu bekerja sebagai petugas

satpam, harus menghidupi delapan anak. Beruntung, Ambon bersentuhan

dengan Sanggar Akar sehingga ia bisa tetap bersekolah. Meski tak

dianjurkan, Ambon terus belajar di sekolah formal. Padahal, kegiatan

di sanggar biasanya berlangsung hingga dini hari.

 

Tamat SMP, Ambon melanjutkan pendidikan ke STM. Meski belajar

otomotif, ia ternyata lebih tertarik pada pelajaran musik yang

didapatkannya di sanggar daripada mengutak-atik mesin. Pelajaran

praktik di bengkel merupakan hari-hari yang melelahkan bagi Ambon.

“Sering saya tiduran di kolong mesin,” katanya.

 

Dengan bekal ijazah STM itu ia kuliah Pendidikan Seni Musik di

Universitas Negeri Jakarta. Sebelumnya ia belajar piano gratis selama

setahun di lembaga pendidikan musik yang dipimpin Dwiki Dharmawan.

 

Di samping kuliah, kini ia memberikan les privat gitar dan

mengajar ekstrakurikuler musik di SD Vincencius.

 

Sekalipun bisa memperoleh uang, ia tidak mau memberikan les bila

itu mengganggu aktivitasnya sehari-hari di sanggar mulai pukul 19.00

hingga dini hari. “Setengah hidup saya, saya habiskan di sanggar.

Saya ingin ikut mengembangkan sanggar,” kata Ambon. “Tanpa Sanggar

Akar, mungkin saya akan jadi orang biasa-biasa saja. Paling-paling

kerja di pabrik. Siang kerja, malam tidur,” ungkapnya.

 

Ambon merupakan salah satu dari delapan anak Sanggar Akar yang

saat ini kuliah. Mereka pada mulanya adalah anak-anak dari kalangan

marginal yang harus bergulat dalam keterbatasan ekonomi sehingga

menutup mimpi-mimpi mereka akan masa depan.

Di tengah keharusan mencari uang, belajar di sanggar, mereka juga belajar di sekolah

formal. Pendidikan alternatif tidak hanya membuka peluang dari

belenggu kemiskinan yang mengelilingi ruang kehidupan mereka, tetapi

juga membuka diri mereka pada dunia yang jauh lebih luas.

 

Itu tercermin dalam keputusan mereka dalam mengambil bidang

studi. Ada yang mengambil program studi Pendidikan Seni Rupa,

Akuntansi, maupun Bahasa Inggris. Bahkan Rika (19) memilih belajar

filsafat dan mulai semester ini mengikuti kuliah di Sekolah Tinggi

Filsafat Driyarkara. Mereka tidak bercita-cita menjadi pegawai negeri

atau karyawan perusahaan. Kalaupun bekerja formal, mereka ingin

menjadi guru. Namun, mereka umumnya lebih suka mengembangkan

pendidikan alternatif seperti yang mereka dapatkan selama ini. *** 

 

 

Tulisan ini pernah dimuat di

Harian Kompas, 17 September 2005, Halaman 1

Kategori: 1
Ditandai: , , , , , , , ,

2 tanggapan so far ↓

Tinggalkan sebuah Komentar